BANYUASIN – Warga Desa Durian Daun, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyuarakan kekecewaan mendalam. Sudah dua tahun mereka hidup tanpa kepastian pembangunan jembatan penghubung yang menjadi akses vital sehari-hari.
Jembatan yang sebelumnya menjadi urat nadi penghubung antar dusun dan akses menuju pusat Kecamatan serta jalan kabupaten itu dikabarkan rusak berat dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat sejak 2024 lalu. Hingga Oktober 2026, belum ada tanda-tanda perbaikan dari pihak terkait.
“Kami sudah dua tahun menunggu. Janji datang terus, realisasi tidak ada. Anak sekolah harus memutar jauh, hasil panen petani susah diangkut karena jembatan tidak bisa dilewati mobil,” ungkap salah seorang warga Durian Daun, Selasa (27/10/2026).
Warga mengaku telah beberapa kali menyampaikan aspirasi melalui pemerintah desa hingga ke tingkat kabupaten, namun jawaban yang diterima selalu normatif dan belum ada kepastian anggaran maupun jadwal pembangunan.
Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi warga lumpuh. Biaya angkut hasil kebun seperti sawit dan karet membengkak hingga dua kali lipat karena harus menggunakan perahu ketek atau memutar melalui jalan alternatif yang jaraknya jauh dan rusak.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Banyuasin dan Dinas PUPR segera turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi real di lapangan.
“Kami tidak butuh janji lagi, kami butuh jembatan. Kalau terus dibiarkan, kami terpaksa akan lakukan aksi damai di kantor Bupati,” tegas warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas PUPR Kabupaten Banyuasin belum memberikan keterangan resmi terkait progres pembangunan jembatan Durian Daun tersebut.
